JANGAN BERSEDIH

Serial Pencerahanan hati ( an-nafsu al-muthma’innah): Sumber : La Tahzan Karya Dr. Aidh al-Qarni edisi Indonesia.

JANGAN BERSEDIH

Jangan bersedih karena hidup miskin, karena masih banyak orang disekitar Anda yang hidup dililit hutang! Jangan bersedih karena tak punya mobil, sebab masih banyak orang disekitar Anda yang kakinya buntung. Jangan bersedih karena suatu penyakit, karena masih orang selain Anda yang mungkin telah bertahun-tahun tergolek lemas diatas ranjang. Jangan bersedih karena kehilangan seorang anak, sebab Anda bukan satu-satunya orang yang kehilangan anaknya.

Jangan bersedih,bila Anda memang seorang muslim yang beriman kepada Allah, para rasul-Nya, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Hari Kiamat, dan qadha serta qadar yang baik dan yang buruk! Karena masih banyak orang kafir yang mengingkari Allah, mendustakan rasul-rasul-Nya, memutarbalikkan makna Al-Quran , dan tak mempercayai hari kiamat, serta ingkar terhadap qadha dan qadar.

Jangan bersedih! Kalau memang Anda tak sengaja telah berbuat dosa, cepatlah bertobat, kalau Anda telah melakukan kejahatan, mintalah ampunan-Nya, dan kalau Anda telah melakukan kesalahan,perbaikilah kesalahan itu. Bagaimananapun rahmat dan kasih sayang  Allah iu tak terhingga luasnya, pintu ampunan-Nya selalu terbuka dan ampunan-Nya senantiasa melimpah ruah.

Jangan bersedih, karena kesedihan hanya akan menyebabkan syaraf cepat letih, jiwa mudah tergoncang, hati menjadi lemah dan pikiran tak terarah.

Seorang penyair berkata,

Mungkin saja seseorang merasa terhimpit cobaan,

karena tak sadar bahwa jalan keluar ada ditangan Sang Pencipta

Kala kesesakan semakin berat terasa, dan semua lingkaran

terbuka, ia akan melihat apa yang tak pernah terbayang olehnya.

NIKMATNYA ILMU PENGETAHUAN

Serial Pencerahanan hati ( an-nafsu al-muthma’innah): Sumber : La Tahzan Karya Dr. Aidh al-Qarni edisi Indonesia.

NIKMATNYA ILMU PENGETAHUAN
{Dan, Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah itu sangat besar.} (QS.An-Nisa : 113)

Kebodohan merupakan tanda kematian Jiwa, terbunuhnya kehidupan dan membusuknya umur.
{ Sesungguhnya, Aku mengingatkan kepadamu supaya kamu tidak termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.} (QS. Hud : 46)

Sebaliknya, ilmu adalah cahaya bagi hati nurani, kehidupan bagi ruh dan bahan bakar bagi tabiat.

{Dan, apakah orang mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang berkali-kali tidak dapat keluar daripadanya ?} (QS. Al-Anam: 122)
Kebahagian, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Itu terjadi karena ilmu mampu menembus yang samar, menemukan sesuatu yang hilang dan menyingkap yang tersembunyi. Selain itu, naluri dari jiwa manusia itu adalah selalu ingin mengetahui hal-hal yang baru dan ingin mengungkap sesuatu yang menarik.

Kebodohan itu sangat membosankan dan menyedihkan.Pasalnya, ia tidak pernah memunculkan hal baru yang lebih menarik dan segar, yang kemarin seperti hari ini, dan yang hari ini pun akan sama dengan yang akan tejadi esok hari.

Bila Anda ingin senantiasa bahagia, tuntutlah ilmu, galilah pengetahuan, dan raihlah pelbagai manfaat, niscaya semua kesedihan, kepedihan dan kecemasan itu akan sirna.

{Dan, katakanlah: ” Ya Rabb-ku, tambhahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”} (QS. Thaha: 144)

{Bacalah dengan nama Rabb-mu Yang menciptakan.} (QS. Al-Alaq:1)

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan pandaikan ia dalam agama.” (Al-Hadits)

Janganlah seseorang sombong dengan harta atau kedudukannya, kalau memang ia tidak memiliki ilmu sedikitpun,. Sebab kehidupannya tidak akan sempurna.

{ Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu ini benar sama dengan orang yang buta.} (QS. Ar-Rad: 19)
Az-Zamakhsyari, dalam sebuah syairnya berkata :

Malam malamku untuk merajut ilmu yang bisa dipetik,
menjahui wanita elok dan harumnya leher.
Aku mondar-mandir untuk menyelesaikan masalah sulit,
lebih menggoda dan manis dari berkepit betis nan panjang.
Bunyi penaku yang menari diatas kertas-kertas,
lebih manis daripada berada di belaian wanita dan kekasih
Bagiku lebih indah melemparkan pasir keatas kertas
daripada gadis gadis yang menabuh dentum rebana
Hai orang yang berusaha mencapai kedudukannku lewat angannya,
sungguh jauh jarak antara orang yang diam dan yang lain, naik
Apakah aku yang tidak tidur selama dua purnama dan engkau tidur nyenyak, setelah itu engkau ingin menyamai derajadku.

Alangkah mulianya ilmu pengetahuan. Alangkah gembiranya jiwa seseorang yang menguasahinya. Alangkah segarnya dada orang penuh dengannya, dan alangkah leganya perasaan orang yang menguasainya.

{Maka, apakah orang yang berpegng teguh pada keterangan yang datang dari Rabb-nya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk yang mengikuti hawa nafsunya?} (QS.Muhammad: 14)

Bersedih: Tak Diajarkan Syariat dan Tak Bermanfaat

Serial Pencerahanan hati ( an-nafsu al-muthma’innah): Sumber : La Tahzan Karya Dr. Aidh al-Qarni edisi Indonesia.

Bersedih: Tak Diajarkan Syariat dan Tak Bermanfaat

Bersedih itu sangat dilarang. Ini ditegaskan dalam firman Allah yang berbunyi,

{ Dan, janganlah kamu bersikap lemah dan jangan(pula) bersedih hati } (QS.Ali’ Imran: 139)

“Janganlah bersedih atas mereka”(Kalimat ini disebut berulang kali dalam beberapa ayat Al Quran ) dan,

{ Janganlah kamu bersedih sesungguhnya Allah selelalu bersama kita.} ( QS. At-Taubah: 40)

Adapun firman Allah yang menunjukkan bahwa, kesedihan(bersedih) itu tak bermanfaat apapun adalah,

{Niscaya tidak ada kekawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati } (QS. Al-Baqarah: 38 )

Bersedih itu hanya akan memadamkan kobaran api semangat, meredamkan tekad, dan membekukan jiwa. Dan kesedihan itu ibarat penyakit demam yang membuat tubuh menjadi lemas tak berdaya. Mengapa demikian ?

Tak lain, karena kesedihan hanya memiliki daya yang menghentikan dan bukan menggerakkan. Dan itu artinya sama sekali tidak bermanfaat bagi hati. Bahkan, kesedihan merupakan suatu hal yang paling disenangi setan. Maka dari itu, setan selalu berupaya agar seorang hamba bersedih untuk menghentikan setiap langkah dan niat baiknya. Ini telah diperingatkan Allah dalam firman-Nya, { Sesungguhnya pembicaraab rahasia itu adalah dari setan supaya orang-orang mukmin berduka cita.}
(QS. Al- Mujadilah: 10 )

Syahdan, Rasulullah s.a.w. melarang 3 orang yang sedang berada dalam satu majelis demikian, “(Janganlah dua orang diantaranya) saling melakukan pembicaraan rahasia tanpa disertai yang ketiga, sebab ynag demkian itu akan membuatnya (yang ketiga) berduka cita.” Dan bagi seorang mukmin, kededihan itu tidak pernah diajarkan dianjurkan. Soalnya,kesedihan merupakan penyakit yang berbahaya bagi jiwa. Karena itu pula, setiap muslim diperintahkan untuk mengusirnya jauh-jauh dan dilarang tunduk kepadanya. Islam juga mengajarkan kepada setiap muslim agar senantiasa melawan dan menundukkannya dengan segala pelaratan yang telah disyariatkan oleh Allah s.w.t.

Bersedih itu itu tidak diajarkan dan tidak bermanfaat. Maka dari itu, Rasulullah s.a.w. senantiasa meminta perlindungan dari Allah agar dijauhkan dari kesedihan. Beliau selalu berdoa seperti ini,

” Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan duka cita.”

Kesedihan adalah teman akrab kecemasan. Adapun perbedaannya antara keduanya adalah manakala suatu hal yang tidak disukai hati itu berkaitan dengan hal-hal yang belum terjadi, ia akan membuahkan kecemasan. Sedangkan bila berkaitan dengan persoalan masa lalu, maka ia akan membuahkan kesedihan. Dan persamaannya, keduanya sama-sama dapat melemahkan semangat dan kehendak hati untuk berbuat suatu kebaikan.

Kesedihan dapat membuat hidup wamenjadi keruh. Ia ibarat racun berbisa bagi jiwa yang dapat menyebabkannya lemah semangat, krisis gairah, dan galau dalam menghadapi hidup ini. Dan itu, akan berujung pada ketidakacuan diri pada kebaikan, ketidakpedulian pada kebajikan, kehilangan semangat untuk meraih kebahagiaan dan kemudian akan berakhir pada pesimisme dan kebinasaan diri yang tiada tara.

Meski demikian, pada tahap tertentu kesedihan memang tidak dapat dihindari dan seseorang terpaksa harus bersedih karena suatu kenyataan. Berkenaan dengan ini, disebutkan bahwa para ahli surga ketika memasuki surga akan berkata,

{Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita cari kami.} (QS. Fathir: 34)

Ini menandakan bahwa ketika didunia mereka pernah bersedih sebagaimana mereka tentu saja pernah ditimpa musibah yang terjadi diluar ikhtiar mereka. Hanya, ketika kesedihan itu harus terjadi dan jiwa tidak lagi memiliki cara untuk menghindarinya, maka kesedihan itu justru akan mendatangkan pahala. Itu terjadi, karena kesedihan yang demikian merupakan bagian dari musibah atau cobaan. Maka dari itu, ketika seorang hamba ditimpa kesedihan hendaknya ia senantiasa melawannya dengan doa-doa dan sarana-sarana lain yang memungkinkan untuk mengusirnya.

{Dan, tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.}
(QS. At-Taubah : 92)

Demikianlah, mereka tidaklah dipuji dikarenakan kesedian mereka semata. Tetapi, lebih dikarenakan kesedihan mereka itu justru mengisyaratkan kuatnya keimanan mereka. Pasalnya, kesedihan mereka berpisah dengan Rasulullah adalah dikarenakan tidak mempunyai harta yang akan dibelanjakan dan kendaraan untuk membawa mereka pergi berperang. Ini mrupakan peringatan bagi orang-orang menafik yang merasa tidak bersedih dan justru bergembira manakala tidak mendapatkan kesempatan untuk turut berjihad bersama Rasulullah.

Kesedihan yang terpuji– yakni yang dipuji setelah terjadi— adalah kesedihan yang disebabkan oleh ketidakmampuan menjalankan suatu ketaatan atau dikarenakan tersungkur dalam jurang kemaksiatan. Dan kesedihan seorang hamba yang disebabkan oleh kesadaran bahwa kledekatan dan ketaaatan dirinya dirinya kepada Allah sangat kurang. Maka, hal yang menandakan bahwa hatinya hidup dan terbuka untuk menerima hidayah dan cahaya-Nya.

Sementara itu, makna sabda Rasulullah dalam sebuah hadis shahih yang berbunyi, ” Tidaklah seorang mukmin ditimpa sebuah kesedihan, kegundahan, dan kerisauan, kecuali Allah pasti akan menghapus sebagian dosa-dosanya,” adalah menunjuk bahwa kesedihan, kegundahan dan kerisauan itu musibah dari Allah yang apabila menimpa seorang hamba, maka hamba tersebut akan diampuni sebagian dosa-dosanya. Dengan begitu, hadits ini berarti tidak menunjukkan bahwa kesedihan, kegundahan dan kerisauan merupakan sebuah keadaan yang harus diminta dan dirasakan.

Bahkan, seorang hamba justru tidak dibenarkan meminta atau mengharap kesedihan dan mengira bahwa hal itu merupakan sebuah ibadah yang diperintahkan, diridhai atau disyariatkan Allah untuk hamba-Nya. Sebab, jika memang semua itu dibenarkan dan diperintahkan Allah, pasrtilah Rasulullah s.a.w. akan jadi orang pertama yang akan mengisi seluruh waktu hidupnya dengan kesedihan-kesedihan dan akan menghabiskannya denga kegundahan-kegundahan. Dan hal seperti itu jelas sangat tidak mungkin. Karena, sebagaimana kita ketahui, hati beliau selalu lapang dan wajahnya selalu dihiasi senyuman, hatinya selalu diliputi keridhaan, dan perjalanan hidupnya selalu dihiasi dengan kegembiraan.

Memang, dalam hadits Hindun ibn Abi Halah tentang sifat Nabi s.a.w. disebutkan habwa, “Sesungguhnya, dia selalu bersedih”. Namun hadits ini ternyata kurang dapat dipercaya, sebab dalam silsilah perawinya terdapat seorang perawi yang tidak terkenal. Selain itu, muatan hadits inipun jelas sangat bertentangan dengan realitas kehidupan Rasulullah s.a.w.

Bagaimana mungkin Rasulullah dikatakan selalu dirundung kesedihan? Bukankah Allah telah melindungi beliau dari kesedihan yang berkaitan dengan urusan keduniaan dan semua unsur-unsurnya, melarangnya agar tidak bersedih atas perilaku orang-orang kafir, dan mengampuni semua dosa-dosanya yang telah berlalu maupun yang belum terjadi ? Nah, dari manakah sumber kesedian itu ? Bagaimana pula kesediahan itu dapat menembus pintu hati beliau ? Dan dari Jalan manakah kesedihan itu dapat menyusup kedalam lubuk hatinya? Bukankah beliau s.a.w. senantiasa hatinya diliputi dzikir, jiwanya dialiri semangat istiqomah, pikirannya selalu dibanjiri hidayah rabbaniyah, dan hatinya senantiasa tenteram dengan janji Allah serta rela dengan semua ketentuan dan perbuatan-Nya ?. Bahkan Rasulullah adalah orang yang terkenal Ramah dan murah senyum sebagaimana dilukiskan oleh salah satu gelarnya sebagai “seseorang yang murah senyum.”

Siapa saja membaca, menghayati, dan mendalami sejarah perjalanan hidup beliau dengan seksama dan menyeluruh, maka ia akan mengetahui bahwa Rasulullah s.a.w. diturunkan ke dunia ini untuk menghancurkan bebatilan, mengusir kesuntukan, kegelisahan, kesedihan dan kecemasan, serta membebaskan jiwa dari tekanan keragu-raguan, kebingungan, kegundahan dan keguncangan. Bersamaan dengan itu, beliau juga diutus untuk menyelamatkan jiwa manusia dari segala bentuk hawa nafsu yang membinasakan. Maka begitulah, betapa banyaknya karunia Allah yang telah dianugerahkan kepada manusia.

Ada sebuah hadits menyebutkan bahwa, ” Sesungguhnya Allah sangat mencintai hati yang senantiasa bersedih.” Namun, hadits ini ternyata tidak memiliki sanad( jalur periwayatan) dan perawi yang jelas, alias kurang dapat dipercaya. Singkatnya, hadits ini jelas kurang dapat dipertangungjawabkan keshahihannya. Selain itu, hadits ini juga tidak dapat dikategorikan shahih karena sangat bertentangan dengan ajaran agama dan tuntunan syariat. Dan kalau khabar (hdits) itu akan diangap shahih, maka penjelasannya adalah demikian : kesedihan itu adalah salah satu musibah dari Allah yang ditimpakan kepada hamba-Nya untuk mengujinya. Artinya, jika hamba tersebut mampu menhadapinya dengan kesabaran, maka sesungguhnya Allah mencintai kesabaran orang tersebut dalam menghadap cobaan itu.

Demikianlah, maka merupakan kesalahan besar bagi orang-orang yang memuja kesedihan, senantiasa berusaha menciptakan kesedihan, dan mencoba membenar-benarkan kesedihan mereka dengan dalih bahwa syariat telah menganjurkan dan memandangnya sebagai sesuatu yang baik. Sebab, pada kenyataannya dalil-dalil syariat melarang hal itu. Bahkan syariat justru memerintahkan setiap manusia agar tidak bersedih dan selalu ceria.

Hadits lain menyebutkan,”Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memancangkan sebuah gemuruh ratapan didalam hatinya. Dan apabila Dia membenci seorang hamba, maka Dia akan menanamkan seruling nyanyian didalam dadanya.”

Memang, hadits ini bersumber dan berasal dari Israiliyat( mitos bangsa Israel). Ada pula yang mengatakan bahwa hadits ini termaktub dalam Taurat. Meski demikian, perkataan ini memiliki pesan makna yang benar. Sebagaimana sering kita lihat, orang mukmin akan senantiasa bersedih atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya, sementara orang yang durhaka akan senantiasa lalai, tidak pernah serius dan berdendang kegirangan justru karena dosa-dosanya. Dan kalaupun ada kesedihan yang menimpa orang-orang salih, maka itu tak lebih dari sebuah penyesalan terhadap kebaikan-kebaikan yang terlewatkan, ketidakmampuan mereka mencapai derajad yang tinggi dan kesadaran bahwa mereka telah melakukan banyak kesalahan. Demikianlah, alasan yang mendasari kesedihan ini berbeda dengan alasan yang mendasari kesedihan orang-orang yang durhaka. Mereka bersedih karena tidak mendapatkan keduniaan, keindahan, kenikmatan duniawi. Kesedihan, kegundahan dan kegelisahan mereka adalah karena keduniaan, untuk keduniaan dan dijalan menuju keduniaan.

Dalam sebuah firman-Nya, Allah menceritakan keadaan seorang nabi dari Bani Israel demikian,

{Dan, kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (kepada anak-anaknya).} (QS. Yusuf; 84)

Ayat ni mengabarkan tentang kesedihan Nabi Ya’qub saat harus kehilangan anak yang menjadi kekasihnya. Ini merupakan kabar bahwa cobaan tersebut sama beratnya dengan musibah atau ujian yang dirasakan oleh seseorang saat dipisahkan dengan buah hatinya. Betapapun, ayat diatas hanya sekedar memberi kabar dan lukisan tentang beratnya cobaan seoranh nabi. Dan itu bukan berarti bahwa kesedihan seperti itu diperintahkan atau dianjurkan. Bahkan justru sebaliknya, kita diperintahkan untuk ber-istiadzah(memohon perlindungan)kepada Allah dari segala kesedihan. Sebab, bagaimanapun kesedihan adalah laksana awan tebal, malam pekat yang panjang, dan aral panjang yang melintang di tengah jalan kearah kemuliaan.
Selain Abu Utsman al-Jabari, semua ahli sufi sepakat bahwa bersedih karena perkara duniawi itu tidak terpuji. Menurut Abu Ustman, kesedian itu—apapun bentuknya—adalah sebuah keutamaan dan tambahan kebajikan bagi seorang mukmin, yakni dengan syarat bila kesedian itu bukan dikarenakan kemaksiatan. Ia juga mengatakan,”Bahwa kalau kesedihan itu tidak diwajibkan secara khusus, maka ia diwajibkan sebagai sarana mensucikan diri.”

Syahdan, ada pula yang berkata, “Tidak diragukan lagi bahwa kesedihan merupakan ujian dan cobaan dari Allah sebagaimana halnya dengan penyakit, kegundahan dan kegalauan. Namun jika dikatakan bahwa kesedian adalah tingkatan yang harus dilalui seorang sufi adalah tidak benar.”

Atas dasar itu, sebaiknya Anda berusaha untuk senantiasa gembira dan berlapang dada. Jangan lupa memohon kepada Allah, agar selelau diberi kehidupan yang baik dan diridhoi, kejernian hati dan kelapangan pikiran. Itulah kenikmatan-kenikmatan di dunia. Betapapun, sebagian ulama mengatakan bahwa didunia ini terdapat surga, dan barangsiapa tidak pernah memasuki surga dunia itu, maka ia tidak akan masuk surga akhirat.

Allah adalah satu-satunya Dzat yang pantas kita mohon agar melapangkan hati kita dengan cahaya iman, menunjukkan hati kepada jalan-Nya yang lurus, dan menyelamatkan kita kehidupan yang susah dan menyesakkan.

“Demikianlah, Telah Kami Jadikan Kamu Umat yang Adil dan Pilihan “

Serial Pencerahanan hati ( an-nafsu al-muthma’innah): Sumber : La Tahzan Karya Dr. Aidh al-Qarni edisi Indonesia.

“Demikianlah, Telah Kami Jadikan Kamu Umat yang Adil dan Pilihan ”

Keadlan merupakan tuntutan akal dan juga syariat, Keadilah adalah
tidak berlebihan-lebihan, tidak melampui batas, tidak memboros-boroskan, dan tidak menghambur-hamburkan. Maka, barang siapa menginginkan kebahagiaan, ia harus senantiasa mengendalikan setiap perasaan dan keinginannya. Dan ia harus pula mampu bersikap adil dalam kerelaan dan kemurkaaannya, dan juga adil dalam kegembiraan dan kesedihannya. Betapapun , tindakan berlebihan dan melampui batas dalam menyikapi segala peristiwa merupakan wujud kezaliman kita terhadap diri kita sendiri.
Duhai, betapa bagusnya keadilan itu ! Betapa tidak. syariah senantiasa di tetapkan dengan prinsip keadilan. Demikian pula dengan kehidupan ini: ia pun berjalan sesuai degan konsep keadilan pula. Manusia yang paling sengsara adalah dia yang menjalani kehidupa ini dengan hanya mengikuti hawa nafsu dan menuruti setiap dorongan emosi serta keinginan hatinya. Pada kondisi yang demikian itu, manusia akan merasa setiap peristiwa menjadi sedemikian berat dan sangat membebani , seluruh sudut kehidupan ini menjadi semakin gelap gulita, dan kebencian, kedengkian serta dendam kesumatpun mudah bergolak didalam hatinya.

Dan akibatnya, semua itu membuat seseorang hidup dalam dunia khayalan dan ilusi. Ia akan memandang setiap hal di dunia ini musuhnya, ia menjadi mudah curiga dan merasa setiap orang disekelilingnya sedang berusaha menyingkirikan dirinya, dan ia akan selalu dibayangi rasa was-was dan kekawatiran bahwa dunia ini setiap saat akan merenggut kebahagiaannya. Demikianlah, maka orang seperti itu senantiasa hidup di bawah naungan awan hitam kecemasan, kegelisahan dan kegundahan.

Menyebarkan desas- desus yang dapat menggelisahkan orang lain sangat dilarang oleh syariat dan termasuk tindakan murahan. Dan itu, hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang miskin nilai-nilai moral dan jauh dari ajaran-ajaran ketuhanan. Begitulah, maka

{ Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras itu ditujukan kepada mereka, Mereka itulah musuh(yang sebenarnya).} (QS.Al-Munafikiun: 4)

Dudukanlah hati Anda pada kursinya, niscaya kebanyakan hal yang dikhawatirkannya tidak akan pernah terjadi,Dan sebelum sesuatu yang Anda cemaskan itu benar-benar terjadi, perkirakan saja apa  yang paling buruk darinya. Kemudian, persiapkan diri Anda untuk menghadapinya dengan tenang. Dengan begitu, Anda akan dapat menghindari semua bayangan-bayangan menakutkan yang acapkali sudah mencabik cabik hati sebelum benar-benar terjadi.

Wahai orang yang berakal dan sadar, tempatkan segala sesuatu itu sesuai dengan ukurannya. Jangan membesar-besarkan peristiwa dan masalah yang ada. Bersikaplah secara adil, seimbang dan jangan berlebihan. Jangan pula larut dalam bayang-bayang semu dan fatamorgana yang menipu !

Camkanlah makna keseimbangan antara kecintaan dan kebencian yang diajarkan dalam hadits Rasulullah berikut:” Cintailah orang yang Anda cintai sesuai dengan kadarnya, sebab bisa saja suatu hari nanti dia menjadi musuhmu. Dan, bencilah musuhmu sesuai dengan kadarnya, sebab bisa saja suatu hari nanti dia menjadi orang yang Anda cintai.”

Renungkan pula firman Allah berikut,

{Mudah-mudah Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kau musuhi diantara mereka. Dan, Allah Maha Kuasa lagi Maha Penyayang.} (QS. Al-Mumtahanah: 7)

Dan, ingat sesungguhnya kebanyakan kekhawatiran dan desas- desus itu sedikit kebenarannya dan jarang pula yang benar-benar terjadi.

SELALU INGATLAH PADA SURGA YANG SELUAS LANGIT DAN BUMI !

Serial Pencerahanan hati ( an-nafsu al-muthma’innah): Sumber : La Tahzan Karya Dr. Aidh al-Qarni edisi Indonesia.

SELALU INGATLAH PADA SURGA YANG SELUAS LANGIT DAN BUMI !
Jika selama di dunia ini Anda menderita kelaparan, jatuh miskin,senantiasa dilanda kesedihan, menderita penyakit yang tak kunjung sembuh, selalu mengalami kerugian, atau diperlakukan secara zalim, maka ingatkan diri Anda pada kenikmatan surga yang lebih kekal abadi. Apabila Anda benar-benar meyakini”jalan” ini dan mengamalkannya dengnan benar, niscayaca Anda akan mampu merubah setiap kerugian menjadi keuntungan, dan setiap bencana menjadi nikmat. Orang yang paling berakal adalah yang senantiasa melakukan sesuatu untuk akherat dengan keyakinan bahwa akherat itu lebih baik dan kekal abadi. Sebaliknya, manusia yang paling bodoh didunia adalah mereka yang memandang dunia ini sebagai segalanya: tempat dan tujuan akhir dari semua harapan.

Karena itu, tidak mengherankan bila Anda melihat mereka adalah orang-orang yang paling gelisah ketika menghadapi suatu musibah dan paling mudah larut dalam penyesalan saat malapetaka merengut semua milik mereka. Itu semua tak lain dikarenakan mereka hanya memandang, memikirkan, mementingkan dan hanya berbuat segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan kehidupan dunia yang sangat singkat, fana, dan tidak bernilai ini. Bahkan, seolah-olah mereka tak rela sedikitpun keceriaan dan kegembiraan mereka didunia ini terkotori dan terusik oleh hal apapun. Padahal, seandainya mereka melepas tabir kesedihan yang menutupi hati mereka dan membuka katup kebodohan yang menempel dimata mereka itu,niscaya mereka akan berbicara kepada jiwa mereka tentang masih adanya tempat tinggal yang kekal abadi (akhirat), pelbagai kenikmatan di dalamnya, dan juga tentang istana-istanya yang megah. Lebih dari itu mereka juga akan senantiasa terdiam khidmat mendengarkan penjelasan-penjelasan wahyu Ilahi tentang alam lain yang lebih kekal abadi. Dan sesungguhnya –demi Allah— alam-alam itulah yang sebenar-benarnya tempat kembali(rumah) yang layak untuk diperhatikan dan diraih dengan usaha yang keras.

Pernahkan kita merenungkan secara mendalam bahwa sesungguhnya para penghuni surga itu tak akan pernah sakit, tak mungkin bersedih hati, tak bakal mati, tak pernah menjadi tua, dan pakaian mereka tak akan lusuh sedikitpun ? Pernahkah kita menghayati wahyu Ilahi yang menyatakan bahwasanya para penghuni surga itu akan menempati istana-istana yang bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar ? Pernahkah kita mengingatkan diri kita dengan kebenaran berita Ilahi yang mengatakan bahwa di surga terdapat semua hal yang tidak pernah dilihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di dalam hati manusia ? Cobalah Anda renungkan kabar Ilahi yang menyatakan bahwa sebatang pohon disurga tak akan selesai dikelilingi oleh seorang pengendara kendaraan selama seratus tahun lebih ! Ingatkan pula diri Anda bahwa panjang sembuah kemah yang didirikan di surga dapat mencapai tujuh puluh mil lebih, sungai-sungainya mengalir dengan deras,istana-istanya sangat indah nan megah, buah-buahannya menggelanyut rendah hingga mudah dipetik, mata airnya mengalir deras, tahta-tahtanya demikian tinggi, gelas-gelasnya tertata rapi, bantal-bantal sandarannya tersusun rapi, dan permadani-permadaninya terhampar luas !

Demikianlah, Anda seyogyanya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa di surga itu terdapat kesenangan yang sempurna, kegembiraan yang agung, dan semerbak wangi yang membuai hidung. Dan penjabaran tentang semua keistimewaan surga itu tak akan habis dalam waktu sesingkat ini. Pasalnya, didalam surga terdapat pelbagai keinginan yang pasti dikabulkan. Maka dari itu, mengapa kita sering lupa memikirkan semua itu dan berbuat segala sesuatu untuk meraihnya ? Renungkanlah !

Apabila tujuan akhir dari perjalanan seorangmanusia adalah “rumah” yang kekal abadi ini, niscaya setiap bencana akan merasa ringan, pelbagai kehidupan akan membuat mata tetap berbinar, dan semua kesengsaraan hidup tetap dapat dijalani dengan riang hati.

Maka dari itu, wahai orang-orang yang merasa sedang dilindas kemiskinan, diliputi kesusahan, dan dililit berbagai macam kesulitan, teruslah berbuat kesalihan ! Dengan begitu, niscaya kalian akan tinggal di surga Allah, berdekatan dengan-Nya dan senantiasa mensucikan nama-nama-Nya. Demikianlah, maka,

{ Salamun’alaikum bima shabartun. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.} (QS. Ar-Ra’d: 24)

TERIMALAH SETIAP PEMBERIAN ALLAH DENGAN RELA HATI, NISCAYA ANDA MENJADI MANUSIA PALING KAYA

Serial Pencerahanan hati ( an-nafsu al-muthma’innah): Sumber : La Tahzan Karya Dr. Aidh al-Qarni edisi Indonesia.

TERIMALAH SETIAP PEMBERIAN ALLAH DENGAN RELA HATI, NISCAYA ANDA MENJADI MANUSIA PALING KAYA

Sebelumnya, hal ini telah banyak dijelaskan; yakni beberapa makna dan faedah dari kerelaan hati seseorang dalam menerima setiap pemeberian atau ketentuan Allah. Namun, kali ini saya akan membahasnya secara lebih panjang lebar untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik. Singkatnya, makna sikap ini adalah bahwa Anda harus rela hati dan puas dengan setiap pemberikan Allah; baik yang berupa raga, harta, anak, tempat tinggal ataupun bakat kemampuan. Dan, makna inilah yang tersirat dari ayat a- Quran berikut,

{ Sebab itu, berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.} (QS. Al-Araf: 144)
Sebagian besar ulama safalus salih dan genarasi awal umat ini adalah orang-orang yang secara materi termasuk fakir miskin. Mereka tidak memiliki harta yang berlimpah, rumah yang megah, kendaraan yang bagus, dan juga pengawal pribadi. Meski demikian, mereka mampu membuat kehidupan ini justru lebih bermakna serta membuat diri mereka dan masyarakatnya lebih bahagia. Yang demikian itu, adalah karena mereka senantiasa memanfaatkan setiap pemberian Allah di jalan yang benar. Dan karena itu pula, umur, waktu dan kemampuan atau ketrampilan mereka menjadi penuh berkah. Kebalikan dari kelompok manusia yang diberkahi itu adalah mereka yang dikarunia Allah dengan kekayaan yang meruah, anak yang banyak, dan nikmat yang berlimpah. Tetapi semua itu justru menyebabkan diri mereka senantiasa merasa penuh penderitaan,kecemasan, dan kegelisahan. Adapun, penyebabnya, tak lain adalah karena mereka telah menyimpang dari fitrah dan tuntutan hidup yang benar. Ini menjadi bukti nyata bahwa segala sesuatu( kekayaan, anak,pangkat, jabatan,kehormatan dan lain sebagainya) adalah bukan segala-galanya.

Lihatlah, berapa banyak sarjana atau doktor yang tidak dapat memberi kontribusi, pemikiran dan pengaruh yang cukup bagi masyarakatnya. Namun sebaliknya; tak sedikit manusia yang dengan ilmu dan kemampuannya yang sangat terbatas justru mampu membangun sungai yang senantiasa mengalirkan manfaat, kebaikan, dan kemakmuran bagi sesama manusia.

Jika Anda ingin bahagia, maka terimalah dengan rela hati bentuk perawakan tubuh yang diciptakan Allah untuk Anda, apapun kondisi keluarga Anda, bagaimanapun suara Anda, seperti apapun kemampuan daya tangkap dan pemahaman Anda, serta seberapapun penghasilan Anda. Bahkan, kalau ingin meneladani para guru sufi yang zuhud, maka sesungguhnya mereka telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar apa yang disebutkan itu. Mereka selalu berkata, ” Seyogyanya Anda senantiasa tetap senang hati menerima sesedikit apapun yang Anda miliki dan rela dengan segala sesuatu yang tidak Anda miliki.”

Berikut ini adalah beberapa tokoh terkenal yang kehidupan duniawi mereka kurang beruntung.

1. ‘Atha’ ibn Rabah, orang yang paling alim pada zamannya adalah seorang mantan budak berkulit hitam, berhidung pesek, lumpuh tangannya, dan berambut keriting.

2. Ahnaf ibn Qais, orang Arab yang dikenal paling sabar dan penyantun ini sangat kurus tubuhnya, bongkok pungungnya, melengkung betisnya dan lemah postur tubuhnya.

3. al- A’masy, ahli hadis kenamaan didunia ini adalah sosok manusia yang sayu sorot matanya dan seorang mantan budak yang fakir, compang-camping baju yang dikenakannya, dan tidak menarik penampilan diri dan rumahnya.

Bahkan, semua nabi dan rasul Allah adalah pernah menjadi penggembala kambing. Dan, meskipun mereka termasuk manusia-manusia pilihan Allah dan sebaik-baik manusia, pekerjaan mereka pun tak jauh beda dengan manusia pada umumnya. Nabi daud adalah seorang tukang besi, Nabi Zakaria seorang tukang kayu, dan Nabi Idris seorang tukang jahit. Kita tahu bahwa mereka adalah orang-orang pilihan.

Ini mengisyaratkan bahwa harga diri Anda ditentukan oleh kemampuan, amal salih, kemanfaatan dan akhlak Anda. Karena itu, janganlah Anda bersedih dengan wajah yang kurang cantik, harta yang tak banyak, anak yang sedikit, dan rumah yang tak megah ! Singkatnya, terimalah setiap pemberian Allah dengan penuh kerelaan hati.

{Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dlam kehidupan dunia.} (QS.Az- Zukhruf:32)

JANGAN SAMPAI HAL-HAL YANG SEPELE MEMBINASAKAN ANDA !

Serial Pencerahanan hati ( an-nafsu al-muthma’innah): Sumber : La Tahzan Karya Dr. Aidh al-Qarni edisi Indonesia.

JANGAN SAMPAI HAL-HAL YANG SEPELE MEMBINASAKAN ANDA !
Banyak orang bersedih hanya karena hal-hal yang sepele yang tak berarti. Perhatikanlah orang-orang menafik; betapa rendahnya semangat dan tekad mereka. Berikut ini adalah perkataan- perkataan mereka:

{Janganlah kamu sekalian berangkat(pergi berperang) di dalam panas terik ini.} ((QS. At-Taubah: 81)

{Berilah kami izin (tidak pergi berperang) dan janganlah menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.} QS.At-Taubah : 49}

{Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka(tidak ada penjaga).} (QS. Al-Ahzab: 13)

{Kami takut akan mendapat bencana.} (QS.Al-Maidah: 52)

{Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.} (QS.Al-Ahzab: 12)

Sungguh, betapa sempitnya hidung-hidung mereka, betapa sengsaranya jiwa-jiwa mereka. Hidup mereka hanya pada sebatas soal perut, piring, rumah dan istana. Mereka tidak pernah mau menengadahkan pandangan mereka ke angkasa kehidupan yang ideal. Mereka juga tak pernah menatap bintang-bintang keutamaan hidup. Kecemasan dan pengetahuan mereka hanya padasoal kendaraan, pakaian, sandal dan makanan. Coba perhatikan, betapa banyaknya manusia yang hidupnya dari pagi hingga sore hanya disibukkan oleh kecemasan dan kegelisahan mereka agar tidak dibenci istri, anak atau kerbat dekatnya, atau agar tidak dapat celaan, atau mengalami keadaan yang menyedihkan. Ini semua pada dasarnya justru merupakan musibah besar bagi manusia-manusia seperti itu. Betapa mereka sama sekali tidak meiliki tujuan-tujuan yang lebih mulia yang seharusnya menyibukkan mereka, dan juga kepentingan-kepentingan agung yang seharusnya menyita seluruh waktu mereka.

Padahal , pepatah mengatakan: “Jika air telah keluar dari bejana, hawa kosong akan datang memenuhinya.” Maka dari itu, bila Anda juga merasa seperti orang-orang tadi, renungkanlah kembali hal-hal yang selama ini telah menyita perhatian dan hidup Anda, atau bahkan membuat Anda resah setiap saat. Benarkah semuanya itu pantas memperoleh perhatian dan porsi yang sedemikian besar dalam hidup Anda ? Mengapa Anda harus rela mengorbankan pikiran, daging, darah, ketentraman dan juga waktu hanya untuk persoalan-persoalan sepele tadi ?
Ibarat orang berjual beli, apa yang Anda lakukan itu sebenarnya suatu keculasan dan kerugian besar yang dibayar murah. Para ahli jiwa sering mengatakan,”Buatlah batasan yang rasional(wajar) untuk setiap hal!” dan lebih tepat dari kalimat ini adalah firman Allah,
{Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.} (QS.Ath_Thalaq: 3)

Yakni, letakkanlah setiap persoalan sesuai dengan ukuran, bobot dan kadarnya. Janganlah sekali-kali Anda melakukan kezaliman dan melampui batas.

Ibaratnya, bila tujuan utamanya oarng-orang yang berbakti kepada Allah (ketika berada dibawah sebuah pohon) adalah untuk berjual beli, maka mereka akan mendapatkan ridha dari Allah. Namun, bila salah seorang dari mereka hanya disibukkan dengan untanya saja, hingga ia tak sempat ikut berjual beli, maka yang akan ia peroleh adalah hanya kebinasaan dan kegagalan.

Abaikanlah hal-hal sepele yang tidakpenting. Jangan sampai Anda hanya disibukkan olehnya dan waktu Anda habis karenanya. Dengan begitu, niscaya Anda kegundahan dan kecemasan akan selalu menjauhi Anda. Dan Anda pun selalu riang ceria.

JANGAN MELETAKKAN BOLA DUNIA DI ATAS KEPALA !

Serial Pencerahanan hati ( an-nafsu al-muthma’innah): Sumber : La Tahzan Karya Dr. Aidh al-Qarni edisi Indonesia.

JANGAN MELETAKKAN BOLA DUNIA DI ATAS KEPALA !

Beberapa orang merasa bahwa diri mereka terlibat dalam perang dunia, padahal mereka sedang berada diatas tempat tidur. Tatkala perang itu usai, yang mereka peroleh adalah luka di pencernaan mereka, tekanan darah tinggi dan penyakit gula. Mereka selalu merasa terlibat dengan peristiwa. Mereka marah dengan naiknya harga-harga, gusar karena hujan tak segera turun, dan kalang kabut tak karuan karena turunya nilai mata uang. Mereka selelau dalam kegelisihan dan kesedihan yang tak berkeduhan.

{ Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereke }

(QS.Al-Munafikun:4)

Top of Form

Nasehat saya untuk Anda: jangan meletakkan bola dunia diatas kepala. Biarkan semua peristiwa itu terjadi,dan jangan disimpan didalam usus. Orang yang memiliki hati seperti bunga karang akan menyerap semua isu dan kasak-kusuk, termakan oleh masalah-masalah kecil dan mudah terguncang karena peristiwa-peristiwa yang terjadi. Hati seperti ini sangat potensial menjadi awal kehancuran.

Mereka yang berpegang pada prinsip yang benar akan senantiasa bertambah keimanannya dengan nasehat-nasehat dan ‘ibrah. Sedangkan mereka yang berpegang pada prinsip yang lemah semakin takut terhadap keguncangan. Di hadapan segala bencana dan musibah, hal yang paling berguna adalah hati yang berani. Seorang pemberani mempunyai sikap yang teguh dan emosi yang terkendali, keyakinan yang menancap tajam, syaraf yang dingin dan hati yang lapang. Sedangkan seorang pengecut justru akan membunuh dirinya sendiri berulang kali, setiap hari, dengan pedang khayalan,ramalan, kabar yang yang tak jelas, dan kasak kusuk. Jika Anda menginginkan sebuah kehidupan yang berlandaskan kuat, maka hadapilah semua persoalan dengan keberanian dan ketabahan. Jangan terlalu mudah digoyang oleh mereka yang tidak memiliki keyakinan, Jangan merasa terjepit oleh semua tipu daya mereka. Jadilah orang yang lebih kuat dari peristiwa itu sendiri, lebih kencang dari angin puyuh, dan lebih kuat dari angin topan, Sungguh kasihan mereka yang memiliki hati yang lemah, betapa hari-hari selalu mengguncang dirinya.

{Dan, sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan ( di dunia).}  (QS.Al-Baqarah: 96)

Sedangkan orang-oranmg yang memiliki hati yang kuat akan senantiasa mendapatkan pertolongan dari Allah dan  senantiasa yakin dengan janji-Nya.

{Lalu, menurunkan ketenangan atas mereka.} (QS.Al-Fath:18)

SABAR ITU INDAH………

Serial Pencerahanan hati ( an-nafsu al-muthma’innah): Sumber : La Tahzan Karya Dr. Aidh al-Qarni edisi Indonesia.

SABAR ITU INDAH………
Bersabar diri merupakan ciri orang-orang yang menghadapi pelbagai kesulitan dengan lapang dada, kemauan yang keras, serta ketabahan yang besar. Karena itu,jika kita tidak bersabar, maka apa yang kita lakukan ?

Apakah Anda memiliki solusi lain selain bersabar ? Dan apakah Anda mengetahui senjata lain yang dapat kita gunakan selain kesabaran ?

Konon ,seorang pembesar negeri ini memiliki ‘ladang gembalaan’ dan ‘lapangan’ yang selalu ditimpa musibah, setiap kali selesai dari satu kesulitan, kesulitan yang lain selalu datang mengunjunginya. Meski demikian, ternyata ia tetap berlindung dibalik perisai kesabaran dan mengenakan tameng keyakinan kepada Allah.

Demikian itulah orang-orang mulia dan terhormat bertarung melawan setiap kesulitan dan menjatuhkan semua bencana itu terkapar diatas tanah.

Syahdan, ketika menjenguk Abu Bakar yang sedang terbaring sakit, para sahabt berkata kepadanya,” Bolehkah kami panggilkan seorang tabib unuk mengobatmu?”

“Seorang tabib telah memeriksaku,” Jawab Abu Bakar.

Para sahabtapun bertanya, ” Lalu apa yang ia katakan?”

Ia berkata,”Sesungguhnya aku boleh melakukan apa saja yang aku mau”

Bersabarlah karena Allah! Dan sebaiknya Anda bersabar sebagaimana kesabaran orang yang yakin akan datangnya kemudahan, mengetahui tempat kembali yang baik, mengharap pahala, dan senang mengingkari kejahatan. Seberapa pun besar masalah yang Anda hadapi, tetaplah bersabar, Karena kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama kebenaran. Jalan keluar datang bersama kesulitan. Dan, dalam setiap kesulitan itu ada kemudahan.

Saya pernah membaca biografi sejumlah orang terkenal, dan saya tertegun dengan besarnya kesabaran dan agungnya ketabahan mereka. Deraan musibah itu mereka anggap sebagai tetesan air dingin yang memercik di kepala mereka. Mereka tak tergoyahkan laksana gunung, dan menancap jauh kedalam kebenaran. Dalam waktu singkat mereka dapat melupakan semua kesedihan itu dan wajah mereka kembali berbinar menyorotkan cahaya kemenangan. Bahkan, ada satu diantara mereka yang tidak hanya cukup bersabar, namun justru menghadang semua bencana itu dan bertriak lantang dihadapan musibah-musibah itu sambil menyatakan tantangannya.

“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung”

Serial Pencerahanan hati ( an-nafsu al-muthma’innah): Sumber : La Tahzan Karya Dr. Aidh al-Qarni edisi Indonesia.

“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung”

Menyerahkan semua perkara kepada Allah, hanyakepada-Nya, percaya sepenuhnya terhadap janji-janji-Nya, ridha dengan apa yang dilakukan-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, dan menunggu dengan sabar pertolongan-Nya merupakan buah keimanan yang palng agung dan sifat paling mulia dari seorang mukmin. Dan ketika seorang hamba tenang bahwa apa yang akan terjadi itu baik baginya, dan ia menggantungkan setiap permasalahannya hanya kepda Rabb-nya, maka ia akan mendapatkan pengawasan, perlindungan, pencukupan serta pertolongan dari Allah.
Syahdan, ketika Nabi Ibrahim a.s. dilempar kedalam kobaran api, ia mengucapkan, ” Hasbunallah wani’mal wakil, ” maka Allah pun menjadikan api yang panas itu dingin seketika. Dan Ibrahim pun tidak terbakar, Demikian halnya yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya. Tatkala mendapat ancaman dari pasukan kafir dan penyembah berhala, mereka juga mengucapkan,” Hasbunallah wani’mal wakil, ”

{(Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah sebaik-baik Pelindung, Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia( yang besar dari) Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan, Allah mempunyai karunia yang besar.} (QS. Ali’ Imran: 173-174)

Manusia tidak akan pernah mampu melawan setiap bencana, menaklukkan setiap derita, dan mencegah setiap malapetaka dengan kekuatannya sendiri. Sebab, manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Mereka akan mampu menghadapi semua itu dengan baik hanya bila, bertawakal kepada Rabb-nya, percaya sepenuhnya kepada Pelindungnya, dan menyerahkan semua perkara kepada-Nya. Karena, jika tidak demikian, jalan keluar mana lagi yang akan ditempuh manusia yang lemah tak berdaya ini saat menhadapi ujian dan cobaan ?

{ Dan, hanya kepada Allahlah hendaknya kamu bertawakal jika kamu benar-benar beriman} (QS.Al-Mai’dah: 23)
Wahai orang yang ingin menyadarkan dirinya, bertawakalah kepada Yang Maha Kuat dan Maha Kaya yang kekuatan amat besar ada pada-Nya . Itu bila Anda mau keluar dari kesusahan dan selamat dari Bencana. Jadikanlah “hasbunallah wa ni’mal wakil” syiar dan semboyan yang selalu menyelimuti langkah hidup Anda. Jika harta Anda sedikit, hutang Anda banyak, sumber penghidupan Anda kering, dan mata pencaharian Anda terhenti, mengadullah kepada Rabb-mu seraya mengucapkan, “Hasbunallah wa ni’mal wakil.”

Jika Anda takut kepada seorang musuh, cemas terhadap pelakuan orang zalim, atau khawatir dengan suatu bencana, maka ucapkanlah dengan tulus kalimat ini: “Hasbunallah wa ni’mal wakil.”

{Dan, cukuplah Rabb-mu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong.} (QS. Al- Furqan: 31)

Powered by WordPress | Free T-Mobile phones at BestInCellPhones.com. | Thanks to Verizon Wireless, Facebook Games and The diet solution